Selasa, 10 Januari 2017

SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTAN DI INDONESIA DIKAJI DARI GEOGRAFI EKONOMI DAN INDUSTRI



MAKALAH
SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI BERKELANJUTAN DI INDONESIA DIKAJI DARI GEOGRAFI EKONOMI DAN INDUSTRI


Dosen Pembimbing:
Dr. ELLYN NORMELANI, M.Pd.M.Sc
SELAMAT RIADI, M.Pd.








Oleh :
HIDAYAT (A1A514075)



PROGRAM S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah dengan judul Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan Di Indonesia Dikaji Dari Geografi Ekonomi Dan Industri.
Keberhasilan penulis dalam menyusun makalah ini tentunya tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1.      Selamat Riadi. M.Pd., selaku Dosen Pembimbing matakuliah Geografi Ekonomi dan industri,
2.      Orang tua penulis yang telah banyak memberi dukungan baik moril maupun materiil,
3.      Serta pihak-pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Akhir kata, karya penulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami senantiasa menampung kritik dan saran untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita dan dapat menambah wawasan serta kepekaan kita mengenai keadaan yang terjadi di masyarakat.


Banjarmasin, 10 Januari 2017


Hidayat










DAFTAR ISI

Halaman Judul                        ............................................................................                       I
Kata Pengantar                       ............................................................................                      II
Daftar Isi                                 ............................................................................                    III
BAB I PENDAHULUAN     ............................................................................                       1
1.1  Latar Belakang            ............................................................................                     1
1.2  Rumusan Masalah       ............................................................................                     2
1.3  Tujuan                         ............................................................................                     2
BAB II LADASAN TEORI ............................................................................                       3
2.1  Geografi Ekonomi      ............................................................................                     3
2.2 Beberapa Pengertian Industr  ..................................................................                   3
2.3  Sumber Daya Manusia  ..........................................................................                    5
2.4 Pembangunan Ekonomi  .........................................................................                   6
2.5 Tujuan Pembangunan Ekonomi  .............................................................                   7
BAB III PEMBAHASAN     ...............................................................................                   9
3.1     Peranan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam Pembangunan Ekonomi Nasional.. 9
3.1.1 Penduduk sebagai Produsen      ..............................................................   .           10
3.1.2 Penduduk sebagai Konsumen   ................................................................              10
3.1.3 Penduduk sebagai Distributor  ..................................................................             11
3.2 Globalisasi dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan dan Pembangunan Ekonomi                     ..........................................................................                            11
3.3 Pengaruh Tingkat Perkembangan Penduduk terhadap Pembangunan Ekonomi ...   11
3.4 Kendala yang Dihadapi SDM dalam Pembangunan Ekonomi Nasional ................  12
BAB IV PENUTUP   ...........................................................................................................  19
4.1 Kesimpulan    ........................................................................................................... 19
4.2 Saran              ........................................................................................................... 19

Daftar Rujukan           ........................................................................................................... 20




PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Indonesia merupakan negara salah satu negara berkembang, oleh karena itu diperlukan pembangunan di berbagai bidang. Pembangunan di Indonesia merupakan tujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu pembangunan yang diperlukan yaitu di bidang ekonomi. Dalam pembangunan ekonomi diperlukan sumber daya manusia yang handal agar dapat mengelola sumber daya alam secara optimal, arif dan berkelanjutan. Sebab, manusia memiliki peran penting dalam terlaksananya pembangunan ekonomi. Dari kajian Geografi Ekonomi, sumber daya manusia dalam aspek keruangan yang berhubungan dengan eksplorasi sumber daya alam dari bumi oleh manusia, produksi dari komoditi (bahan mentah, bahan pangan, bahan pabrik) kemudian usaha transportasi, distribusi dan konsumsi. (Suharyono, 1994:34)
Industri di dunia diawali dari Revolusi Industri ( RI ) di Inggris pada abad ke-18. Pada dasarnya Revolusi Industri  merupakan penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin. Dorongan terbesar terjadinya Revolusi Industri  ini saat penemuan mesin uap oleh James Watt’s Th. 1764. Mesin ini menjadi pendorong utama tenaga mesin penggerak pada pertanian pabrik. Percepatan Revolusi Industri  terjadi pada tahun 1800 dengan dikembangkannya mesin yang menggunakan bahan bakar dan listrik.
Industri adalah bidang matahati buka telingah yang menggunakan ketrampilan dan ketekunan kerja (bahasa Inggris: industrious) dan penggunaan alat-alat di bidang pengolahan hasil-hasil bumi dan distribusinya sebagai dasarnya. Maka industri umumnya dikenal sebagai mata rantai selanjutnya dari usaha-usaha mencukupi kebutuhan (ekonomi) yang berhubungan dengan bumi, yaitu sesudah pertanian, perkebunan dan pertambangan yang berhubungan erat dengan tanah. Kedudukan industri semakin jauh dari tanah, yang merupakan basis ekonomi, budaya, dan politik.
ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Perkembangan pasar global yang momentumnya bersamaan dengan proses reformasi di Indonesia harus dihadapi dengan sikap profesional yang hanya dapat dicapai dengan spesialisasi dan sikap proaktif untuk terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya transformasi dari aspek profesionalitas kepada semua pihak, terutama kalangan pemerintah, swasta, dan generasi muda sebagai pewaris perjuangan bangsa dan negara dalam menyongsong era globalisasi guna mewujudkan masyarakat madani.


1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana peran sumber daya manusia terhadap pembangunan ekonomi nasional?
2.      Bagaimana pengaruh jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi nasional?
3.      Apa saja kendala yang dihadapi sumber daya manusia dalam pembangunan ekonomi nasional?

1.3  Tujuan

1.      Untuk mengetahui peran sumber daya manusia terhadap pembangunan ekonomi nasional.
2.      Untuk mengetahui pengaruh jumlah penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
3.      Untuk mengetahui kendala yang dihadapi sumber daya manusia dalam pembangunan ekonomi nasional dan dapat memberikan solusi alternatif dalam menghadapi kendala tersebut.












BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Geografi Ekonomi
Nursid (1988:54 ) geografi ekonomi sebagai cabang geografi manusia yang bidang studinya struktur aktivitas keruangan ekonomi sehingga titik berat studinya adalah aspek keruangan struktur ekonomi manusia yang di dalamnya bidang pertanian, industri-perdagangan-komunikasi-transportasi dan lain sebagainya.
H. Robinson (1979) geografi ekonomi sebagai ilmu yang membahas mengenai cara-cara manusia dalam kelangsungan hidupnya berkaitan dengan aspek keruangan, dalam hal ini berhubungan dengan eksplorasi sumber daya alam dari bumi oleh manusia, produksi dari komoditi (bahan mentah, bahan pangan, barang pabrik) kemudian usaha transportasi, distribusi,dan konsumsi.
Suharyono, (1994 : 34). Geografi ekonomi merupakan cabang dari geografi manusia di mana bidang studinya adalah struktur keruangan aktivitas ekonomi. Miller,Aleksander (1984). Geografi sebagai studi variasi keruangan di permukaan bumi di mana manusia melakukan aktivitas yang berhubungan dengan produksi,pertukaran dan pemakaian sumber daya demi kesejahteraannya.
Dapat diartikan bahwa geografi ekonomi berarti mengenai ruang lingkup manusia dalam aktivitas ekonominya. Di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia. Setiap daerah pasti berbeda aktivitas atau kegiatan ekonominya, karena setiap daerah atau ruang itu berbeda. Jadi, geografi ekonomi adalah aktivitas ekonomi manusia sebagai objeknya di satu ruang atau ruang tertentu.

2.2 Beberapa Pengertian Industri Antara lain sebagai berikut :
1)     Industri berasal dari bahasa latin yaitu industria yang artinya buruh(tenaga kerja) dan industrios yang artinya kerja keras.
2)     Industri artinya bagian dari proses produksi dimana yidak mengambil langsung dari alam untuk dikonsumsi, tetapi bahan-bahan itu diolah lebih dahulu sehingga menjadi barang yang berguna bagi masyarakat.
3)     Menurut Encyclopedia Americana, industri diartikan sekelompok kegiatan yang mengusahakan benda-benda ekonomi dan penggunaanya.
4)     Industri dalam arti sempit ialah kegiatan industri yang hanya terbatas pada tipe kegiatan ekonomi sekunder yaitu segala macam usaha atau kegiatan yang sifatnya mengubah atau mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.
5)      Industri dalam arti luas adalah suatu kegiatan dalam usahanya untuk meningkatkan produktifitas dalam kegiatan ekonomi.
6)      Mnurut G.T. Rennes, industri adalah aktifitas ekonomi manusia yang dilaksanakan secara terorganisasi dan sistematis.
7)      Menurut UU RI No.5 Tahun 1984, industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi atau barang jadi menjadi barang dengan nilai lebih atau barang jadi menjadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaanya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Menurut Roswto pertumbuhan dan perkembangan industri dibedakan menjadi 5 tahap, yaitu:
1.      The traditional society (masyarakat tradisional) Suatu masyarakat yang strukturnya dibangun dalam fungsi terbatas, ilmu pengetahuan dan tekhnologi sangat sedrhana dan berenghasilan rendah.
2.      The Precondition for take off (pra kondisi menuju tinggal landas)
Merupakan bentuk masyarakat dalam masa peralihan. Nilai dan cara-cara tradisional mulai dirasakan tidak cocok. Sedangkan nilai-nilai baru muncul dan sangat dibutuhkan. Secara perlahan perubahan-perubahan pun mulai terjadi.
3.      Take off (masa tinggal landas)
Merupakan masa dimana berbagai kendala terhadap pertumbuhan sudah dapat diatasi. Niali-nilai dan terobosan baru yang jelas dapat menimbulkan kemajuan masyarakat yang makin luas.
4.      The drive to maturity (menju ke arah kedewasaan)
Tahap menuju kedewasaan atau kematangan adalah suatu tahap kegiatan perekonomian yang tumbuh secara terus menerus. Produktivitas dari keguatan industri sangat berarti menentukan pendapatan nasional.
5.      The age of high masa concumtion (suatu masa masyarakat berkonsumsi tinggi)
Masa konsumsi tinggi ditandai dengan adanya perkembangan kegiatan industri lebih ditujukan untuk menhasilkan barang-barang konsumsi yang tahan lama.




2.2  Sumber Daya Manusia

Menurut Gomes (1997), Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang terdapat dalam suatu organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas. Dalam suatu organisasi perlu adanya suatu manajemen yang mengelola sumber daya manusia yang ada untuk mencapai tujuan organisasi. Mathis dan Jackson (2006) mengartikan manajemen sumber daya manusia sebagai rancangan sistem – sistem formal dalam sebuah organisasi untuk memastikan penggunaan bakat manusia secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan – tujuan organisasional. Tugas manajemen sumber daya manusia adalah untuk mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh tenaga kerja yang puas akan pekerjaannya.
Menurut Werther dan Davis yang dikutip oleh Edy Sutrisno menyatakan bahwa sumber daya manusia adalah pegawai yang siap, mampu dan siaga dalam mencapi tujuan – tujuan organisasi (Werther dan Davis dalam Sutrisno, 2009:1)
Menurut Hadari Nawami yang dikutip oleh Ambar Teguh Sulistiyani dan Rosidah yang dimaksudkan sebagai sumber daya manusia meliputi tiga pengertian yaitu
  1. Sumber daya manusia adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenaga kerja, pegawai atau karyawan)
  2. Sumber daya manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya.
  3. Sumber daya manusia adalah potensi yang merupakan asset dan berfungsi sebagai modal (non material/nonfinansial) didalam organisasi bisnis, yang dapat diwujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensinya. (Nawami dalam Sulistiyani dan Rosidah, 2003:9)
Selain definisi Sumber daya manusia diatas Faustino Cardoso Gomes (2003:1) menyebutkan bahwa: Sumber daya manusia merupakan salah satu sumber daya yang terdapat dalam organisasi, meliputi semua orang yang melakukan aktivitas.

2.3. Pembangunan Ekonomi
Menurut Lincolin Arsyad (1993:4), Pembangunan ekonomi adalah kegiatan – kegiatan yang dilakukan suatu Negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya.  Dengan batasan tersebut, maka pembangunan ekonomi pada umumnya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu Negara meningkat dalam jangka panjang. Dari batasan dan defenisi tersebut dapat diperoleh pengertian bahwa pembangunan ekonomi adalah
  1. Suatu proses, yang berarti perubahan secara terus menerus
  2. Usaha untuk menaikkan pendapatan perkapita.
  3. Kenaikan pendapatan perkapita yang berlangsung dalam jangka panjang.
Definisi pembangunan ekonomi menurut Maier adalah suatu proses dimana pendapatan perkapita suatu Negara meningkat selama kurun waktu yang panjang. Dengan catatan bahwa; jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan absolut tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semaking timpang (Maier dalam Mudrajad Kuncoro, 1997:17)
Menurut Suparmoko, pembangunan atau perkembangan ekonomi adalah kegiatan yang menunjukkan perubahan – perubahan dalam struktur output dan alokasi imput pada berbagai sektor perekonomian, disamping kenaikan output. (Irawan dan M. suparmoko, 1987:5)

2.4  Tujuan Pembangunan Ekonomi
Pembangunan didefinisikan sebagai upaya suatu bangsa untuk meningkatkan
mutu  dengan  memanfaatkan  sumber  daya  yang  ada,  baik  sumber  daya  manusia
maupun sumber daya alam melalui proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang berkelanjutan (Sudarja 2005 :1). Sedangkan menurut Soerjono Soekamto (1990:454) Pembangunan  merupakan  suatu  proses  perubahan  di  segala  bidang  kehidupan  yang dilakukan  secara  sengaja  berdasarkan  suatu  rencana  tertentu.  Pembangunan  nasional Indonesia misalnya, merupkan suatu proses perubahan yang dilakukan berdasarkan rencana  tertentu  dengan  sengaja  dan  memang  dikaehendaki  ,  baik  oleh  pemerintah yang menjadi pelopor pembangunan maupun masyarakat.
Pembangunan menurut kacamata Sosiologis terbagi menjadi tiga dimana setiap bagian memiliki dimensi ukuran, yaitu :
1.      Pertumbuhan (Growth) yang diukur melalui Perkapita, GNP, Fasilitas sosial
2.      Perbaikan (Improvement) yang di fokuskan pada distribusi/pemerataan diukur melalui kurva lorenz dan koefisien gini.
3.      Perubahan (Change) yang direncanakan dan diarahkan (Planned and Directed) yang diukur strata sosial dan indikator sosial
4.      Ukuran  yang  lebih  komprehensif  di  ukur  melalui  Indeks  Mutu  Hidup  (IMH) atau Quality of Lives. IMH terdiri dari komponen angka harapan hidup (AHH), angka kematian Bayi (AKB) dan Angka Melek Huruf (AMH).
Soekamto  (1990:454)  Proses  pembangunan  bertujuan  untuk  meningkatkan
taraf hidup masyarakat , baik secara material maupun spiritual. Peningkatan taraf hidup masyarakat mencakup suatu perangkat cita-cita yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.       Pembangunan  harus  bersifat  rasionalistis,  artinya  haluan  yang  diambil  harus berlandaskan pada pertimbangan rasional dalam suatu sistem.
b.      Adanya  rencana  Pembangunan  dan  proses  Pembangunan  .  Artinya  adanya keinginan  untuk  selalu  membangun  pada  ukuran  dan  haluan   yang terkoordinasi secara rasional dalam suatu sistem.
c.       Peningkatan Produktivitas
d.      Peningkatan standar kehidupan
e.       Kedudukan,  peranan  dan  kesempatan   yang  sederajat  dan  sama  dibidang politik, sosial, ekonomi dan hukum
f.       Pengembangan  lembaga-lembaga  sosial  dan  sikap-sikap  dalam  masyarakat Konsolidasi nasional dan
g.      Kemerdekaan nasional
Dari pemaparan diatas kita dapat merekonstruksi kembali tentang hakekat SDM  yang berkualitas untuk membangun bangsa ini.
Pembangunan ekonomi menurut Maier bertujuan untuk membangun identitas nasional atau kepribadian bangsa. Adapun cara untuk mencapai tujuan ini sangat dipengaruhi pandagan hidup bangsa tersebut dalam upaya menaikkan output nasional dan pendapatan masyarakat. (Maier dalam Mudrajad Kuncoro, 1997:17)
Irawan dan Suparmoko mengartikan pembangunan ekonomi sebagai usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang diukur melalui tinggi rendahya pendapatan perkapita. Jadi tujuan pembangunan ekonomi disamping meningkatkan pendapatan nasional riil, juga meningkatkan produktivitas ( Irawan dan M. Suparmoko, 1987:7)






BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Peranan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam Pembangunan Ekonomi Nasional

Sumber daya manusia (SDM) merupakan seluruh kemampuan atau potensi penduduk yang berada di dalam suatu wilayah tertentu beserta karakteristik atau ciri demografis, sosial maupun ekonominya yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembangunan. Jadi membahas sumber daya manusia berarti membahas penduduk dengan segala potensi atau kemampuannya yang terdiri atas aspek kualitas dan kuantitas.
Bicara tentang kuantitas (jumlah) berarti menunjukkan bagaimana karakteristik demografis tentang jumlah dan pertumbuhan penduduk, penyebaran dan  komposisi penduduk. Sedangkan untuk kualitas (mutu) menjelaskan bagaimana seorang manusia berhubungan dengan karakteristik sosial dan ekonomi agar terciptanya suatu keberhasilan dalam pembangunan suatu Negara. Tentunya sangat dibutuhkan sekali sumber daya manusia yang tangguh, unggul dan baik secara fisik maupun mental.
Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha.
Sumber daya manusia atau penduduk menjadi asset tenaga kerja yang efektif untuk menciptakan kesejahteraan. Kekayaan alam yang melimpah tidak akan mampu memberikan manfaat yang besar bagi manusia apabila sumber daya manusia yang ada tidak mampu mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia.

3.1.1 Penduduk sebagai Produsen
Masyarakat sebagai produsen mencakup berbagai bentuk kegiatan masyarakat yang dapat menghasilkan pendapatan, misalnya dapat berupa kegiatan usaha, berdagang, bercocok tanam, beternak, dan sebagainya.
Sistem ekonomi Indonesia memiliki acuan yang jelas, yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Maka dari itu sistem ekonomi bukanlah pasar bebas maupun perencanaan sentral, melainkan sistem ekonomi Indonesia mendasarkan pada ekonomi kerakyatan. Dalam sistem ekonomi kerakyatan masyarakat memegang peranan aktif dalam kegiatan ekonomi, sedangkan pemerintah menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha.
Sistem ekonomi kerakyatan dapat didefinisikan sebagai pengaturan kehidupan ekonomi yang memungkinkan seluruh potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi. Kesejahteraan rakyat yang meningkat, merata, dan berkeadilan merupakan tujuan utama demokrasi ekonomi kerakyatan.
Salah satu pilar penyangga ekonomi kerakyatan adalah usaha informal yang berkembang dalah kehidupan masyarakat.
Ciri-ciri sektor usaha informal adalah sebagai berikut :
  • Sektor usaha informal tidak memiliki alat-alat produksi yang canggih.
  • Pelaku ekonomi sektor usaha informal tidak memiliki pendidikan / keahlian khusus.
  • Sektor usaha informal dapat membuka lapangan kerja yang tidak sedikit jumlahnya.
  • Sektor usaha informal hanya memiliki ruang lingkup usaha ekonomi yang sempit dan kecil.
Beberapa contoh kegiatan ekonomi sektor usaha informal adalah :
  • Pedagang asongan
  • Pedagang sambilan
  • Pedagang kaki lima
  • Pedagang keliling
3.1.2 Penduduk sebagai Konsumen
Masyarakat sebagai konsumen memerlukan barang dan jasa bagi kelangsungan hidup masyarakat. Masyarakat adalah pengguna (konsumen) "public goods" atau produk-produk umum, seperti jalan raya, jembatan, rumah sakit, sekolah, dan lain-lain. Penggunaan public goods yang pada umumnya disediakan oleh pemerintah pusat maupun daerah, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan atau pengangguran merupakan bentuk kehidupan yang hanya melakukan kegiatan konsumsi saja, sehingga sering menimbulkan masalah di masyarakat. Berbagai tindak kejahatan dilakukan semata-mata karena untuk memenuhi kegiatan konsumsi. Di mana orang memiliki banyak kebutuhan, tetapi tidak memiliki pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan bagi pemenuhan kebutuhan tersebut.
Oleh karena itu, penting bagi setiap orang sejak dini tertanam sikap untuk mampu berproduksi dan bukan hanya melakukan konsumsi saja. Di samping itu berkaitan dengan kegiatan konsumsi, perlu dilandasi sikap mental untuk bisa mengukur kemampuan diri, sehingga tidak besar pasak daripada tiang.
3.1.3 Penduduk sebagai Distributor
Masyarakat sebagai distributor diwujudkan dalam bentuk terjadinya penyaluran proses penyaluran barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Lalu lintas perdagangan dan transportasi yang membawa barang-barang pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan masyarakat merupakan bentuk kegiatan distribusi yang berlangsung di masyarakat.
Kelancaran arus distribusi yang berlangsung di masyarakat dapat kita amati dari lancar-tidaknya proses transportasi barang kebutuhan dari satu kota ke kota yang lain. Salah satu faktor yang memicu terjadinya kelangkaan barang antara lain disebabkan ketidaklancaran proses distribusi. Hal ini sering terjadi di daerah-daerah yang sulit transportasinya.

3.2 Globalisasi dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan dan Pembangunan Ekonomi          
            Globalisasi dan pembangunan berkelanjutan bukan berhubungan erat, melainkan memiliki hubungan sebab-akibat. Sulit diletakkan bahwa degradasi lingkungan yang terjadi di negara-negara berkembang sebagian besar merupakan tanggung jawab dari negara maju. Investasi oleh negara maju di negara berkembang telah menguras sumber daya alam yang melebihi kemampuan daya dukung dari sumber daya alam tersebut. Hal ini terjadi karena teknologi yang digunakan bukanlah teknologi yang akrab dengan lingkungan, tetapi teknologi yang telah ketinggalan zaman, teknologi yang tidak peduli terhadap dampak lingkungan. Sementara teknologi yang akrab lingkungan telah dilindungi oleh negara maju dengan Trade Related Aspects on Intellectual Property (TRIPs), sehingga bila diterapkan biayanya tidak terjangkau oleh negara-negara berkembang.

WTO dan Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan bertumpu pada 3 pilar atau dimensi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan hidup, dimana ketiga pilar tersebut secara simultan diterapkan pada pengelolaan aset berupa sumber daya alam, infrastruktur dan sumber daya manusia. Akan tetapi pada praktiknya prinsip pembangunan berkelanjutan dalam WTO hanyalah pernyataan di atas kertas. Negara maju berupaya mendorong percepatan liberalisasi perdagangan yang kurang adil dan seimbang kerana berbagai persyaratan perdagangan produk, khususnya bidang lingkungan hidup, diterapkan tanpa mempertimbangkan kondisi penguasaan teknologi, akses pada teknologi akrab lingkungan, dan pendanaan bagi penguasaan teknologi akrab lingkungan.

Kronologis Kesepakatan Global tentang Pembangunan Berkelanjutan
Kepedulian global mengenai lingkungan dimulai dengan diselenggarakannya Konferensi PBB tentang lingkungan Hidup Manusia di Stockholm, 5-16 Juni 1972 yang dihadiri 113 negara yang menghasilkan Deklarasi tentang Lingkungan Hidup Manusia (Human Environment Declaration)/dikenal dengan Stockholm Declaration, Rencana aksi lingkungan hidup manusia, Rekomendasi tentang kelembagaan dan keuangan untuk menunjang pelaksanaan Rencana aksi bersih tersebut, serta pada koferensi ini juga menghasilkan bada PBB khusus yang mengurus masalah lingkungan hidup, yaitu United Nation Environment Programme (UNEP), yang berkedudukan di Nairobi, Kenya. Dalam konferensi ini ditetapkan hari lingkungan Sedunia (World Environment Day) pada tanggal 5 Juni.
Pertemuan Stockholm membawa kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup, dimana pengelolaan sumber daya alam masih dianggap modal signifikan bagi pembangunan. Kesadaran ini pada tahun 1983 menghasilkan sebuah komisi independen yaitu Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (Word Commision on Environment and Development/WCED). WCED memformulasikan agenda global untuk perubahan. Pertemuan pertamanya yaitu World Summit On Sustainable Development (WSSD) yang menghasilkan 2 konsep yaitu konsep kebutuhan terutama kebutuhan dasar dari dunia miskin, dan ide keterbatasan yang digagas oleh teknologi dan organisasi sosial atas kemampuan lingkungan untuk mempertemukan kebutuhan sekarang dan mendatang.
Konferensi PBB kedua diselenggarakan tahun 1992, di Rio de Janeiro, Brazil. Dengan pokok pembahasan lebih mencoba mengolaborasi konsep pembangunan berkelanjutan dalam aksi yang lebih konkret. Konferensi ini dikenal dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (Eart Summit) karena berhasil mendatangkan 100 pemimpin dunia dan perwakilan resmi dari 172 negara. Yang menghasilkan 5 perjanjian tingkat pemerintah yaitu Deklarasi Rio tentang Lingkungan Hidup, adenda 21, konvensi keanekaan hayati, konvensi perubahan iklim, dan prinsip-prinsip kehutanan.
3.3 Pengaruh Tingkat Perkembangan Penduduk terhadap Pembangunan Ekonomi

Penduduk memiliki dua peranan dalam pembangunan ekonomi; satu dari segi permintaan dan yang lain dari segi penawaran. Dari segi permintaan penduduk bertindak sebagai konsumen dan dari segi penawaran bertindak sebagai produsen. Oleh karena itu perkembangan penduduk yang cepat tidak  selalu merupakan penghambat bagi jalannya pembangunan ekonomi jika penduduk ini mempunyai kapasitas yang tinggi untuk menghasilkan dan menyerap hasil produksi yang dihasilkan. Ini berarti tingkat pertambahan penduduk yang tinggi disertai dengan tingkat penghasilan yang tinggi pula. Jadi pertambahan penduduk dengan tingkat penghasilan yang redah tidak ada gunanya bagi pembagunan ekonomi.
Kalau seandainya terjadi penurunan jumlah penduduk, maka akan terjadi pula penurunan dalam rangsangan untuk mengadakan investasi dan permintaan agregatif juga akan turun. Jika perkembangan penduduk tertunda maka akumulasi kapital juga akan menjadi lesu karena beberapa alasan,yaitu: wiraswasta akan mengira bahwa pasar menjadi semakin sempit. Sedangkan karena tingkat keuntungan merupakan fungsi dari luasnya pasar, maka investasi yang tergantung pada tingkat keuntungan akan menurun. Disamping alasan itu pertambahan penduduk juga mendorong adanya perluasan investasi karena adanya kebutuhan perumahan yang semakin besar dan juga kebutuhan-kebutuhan yang bersifat umum seperti jalan raya, fasilitas transportasi umum, persediaan air minum, kesehatan dan sebagainya. Kebutuhan akan kapital dalam bidang ini relatif lebih besar daripada bidang-bidang lain sehingga penurunan tingkat perkembangan penduduk akan mengakibatkan turunya akumulasi kapital.
Produktivitas penduduk dinegara-negara berkembang adalah rendah sehingga mengakibatkan rendahnya produksi pula. Karena sebagian besar penduduk tinggal di desa dan hidupnya sebagian berasal dari sector pertanian. Maka hampir semua hampir semua penghasilan yang didapatnya akan dikondumeir seluruhnya. Seandainya ada sisa, hanya relatif kecil jumlahnya. Akibatnya tingkat investasi juga akan rendah. Jadi, di negara-negara sedang berkembang, dimana sudah terdapat perbandingan yang tinggi antara jumlah manusia dan jumlah faktor-faktor produksi yang lain, perkembangan penduduk yang cepat akan menimbulkan diseconomies of scale. Di negara-negara yang sedang berkembang dimana kepadatan penduduk yang cepat akan dapat pula mendorong perkembangan ekonomi, apabila kapital dan kemampuan managerial termasuk organisasi dan administrasi dapat mengimbangi tantangan penduduk tersebut.
3.4 Kendala yang Dihadapi SDM dalam Pembangunan Ekonomi Nasional

Dalam pencapaian pembangunan ekonomi nasional banyak kendala yang dihadapi. Termasuk juga SDM yang ada juga mengalami kendala – kendala dalam pengembangan pembangunan ekonomi nasional, diantaranya:
Tingkat Pendidikan
Keadaan penduduk di negara-negara yang sedang berkembang tingkat pendidikannya relatif lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara maju, demikian juga dengan tingkat pendidikan penduduk Indonesia. Rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia disebabkan oleh:
1.      Tingkat kesadaran masyarakat untuk bersekolah rendah.
2.      Besarnya anak usia sekolah yang tidak seimbang dengan penyediaan sarana pendidikan.
3.      Pendapatan perkapita penduduk di Indonesia rendah.
Dampak yang ditimbulkan dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah:
1.      Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara maju. Keadaan ini sungguh ironis, di mana keadaan jumlah penduduk Indonesia besar, tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan tenaga ahli yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
2.      Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru. Hal ini nampak dengan ketidakmampuan masyarakat merawat hasil pembangunan secara benar, sehingga banyak fasilitas umum yang rusak karena ketidakmampuan masyarakat memperlakukan secara tepat. Kenyataan seperti ini apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya pembangunan. Oleh karena itu, pemerintah mengambil beberapa kebijakan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan masyarakat.
Usaha-usaha tersebut di antaranya:
·         Pencanangan wajib belajar 9 tahun.
·         Mengadakan proyek belajar jarak jauh seperti SMP Terbuka dan Universitas Terbuka.
·         Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain).
·         Meningkatkan mutu guru melalui penataran-penataran.
·         Menyempurnakan kurikulum sesuai perkembangan zaman.
·         Mencanangkan gerakan orang tua asuh.
·         Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi.
Sistem pendidikan perlu dirubah total karena jika kita terus bertahan disistem pendidikan lama seperti sekarang ini maka kita akan terus terpuruk khususnya dibidang ekonomi. Karena sistem pendidikan diIndonesia terus menerus melatih siswa dengan mematikan karakteristik dan bakat terpendam siswa. Sistem pendidikan di Indonesia hanya membunuh karakter siswa lihat saja siswa yang baru masuk sekolah begitu riang dan gembira akan tetapi setelah masuk sekolah dan menerima berbagai pelajaran, dirinya mulai bosan dan ingin segera keluar dari sekolah. Karena ada yang terbunuh dari jiwanya yaitu kebebasannya dalam mengembangkan bakat dasar yang dia bawa sejak lahir.Jika siswa terbiasa terkekang dan takut dengan berbagai ancaman maka wajar saja kelak dirinya menjadi pengangguran karena kreativitasnya telah lama terpasung dan terbiasa bergantung serta lebih senang mencari kerja dari pada menciptakan lapangan kerja padahal lapangan kerja semakin terbatas.

Tingkat Kesehatan
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, perilaku kesehatan, pelayanan kesehatan dan kependudukan. Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat. Meskipun angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang sangat signifikan sebagai dampak pelaksanaan pembangunan di segala bidang, termasuk intervensi program kesehatan yang sangat intensif dilaksanakan di seluruh pelosok tanah air, namun dengan terjadinya krisis ekonomi yang dimulai pada pertengahan tahun 1997 dapat dipastikan bahwa angka kematian bayi dapat meningkat kembali sejalan dengan meningkatnya prevelensi balita kekurangan energi dan protein. Pembangunan di bidang kesehatan merupakan bagian dari investasi yang perlu diperhatikan dan keberhasilan di bidang tersebut akan memberikan andil dalam mempercepat pembangunan nasional.
Tingkat kesehatan suatu negara umumnya dilihat dari besar kecilnya angka kematian, karena kematian erat kaitannya dengan kualitas kesehatan.
Kualitas kesehatan yang rendah umumnya disebabkan:
  1. Kurangnya sarana dan pelayanan kesehatan.
  2. Kurangnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
  3. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan.
  4. Gizi yang rendah.
  5. Penyakit menular.
  6. Lingkungan yang tidak sehat (lingkungan kumuh).
Dampak rendahnya tingkat kesehatan terhadap pembangunan adalah terhambatnya pembangunan fisik karena perhatian tercurah pada perbaikan kesehatan yang lebih utama karena menyangkut jiwa manusia. Selain itu, jika tingkat kesehatan manusia sebagai objek dan subjek pembangunan rendah, maka dalam melakukan apa pun khususnya pada saat bekerja, hasilnya pun akan tidak optimal.
Untuk menanggulangi masalah kesehatan ini, pemerintah mengambil beberapa tindakan untuk meningkatkan mutu kesehatan masyarakat, sehingga dapat mendukung lancarnya pelaksanaan pembangunan. Upaya-upaya tersebut di antarnya:
  1. Mengadakan perbaikan gizi masyarakat.
  2. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
  3. Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan.
  4. Membangun sarana-sarana kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, dan lain-lain.
  5. Mengadakan program pengadaan dan pengawasan obat dan makanan.
  6. Mengadakan penyuluhan tentang kesehatan gizi dan kebersihan lingkungan.
Tingkat penghasilan/pendapatan
Tingkat penghasilan/pendapatan suatu negara biasanya diukur dari pendapatan per kapita, yaitu jumlah pendapatan rata-rata penduduk dalam suatu negara. Negara-negara berkembang umumnya mempunyai pendapatan per kapita rendah, hal ini disebabkan oleh:
  1. Pendidikan masyarakat rendah, tidak banyak tenaga ahli, dan lain-lain.
  2. Jumlah penduduk banyak.
  3. Besarnya angka ketergantungan.
Berdasarkan pendapatan per kapitanya, negara digolongkan menjadi 3, yaitu:
  1. Negara kaya, pendapatan per kapitanya > US$ 1.000.
  2. Negara sedang, pendapatan per kapitanya = US$ 300 – 1.00.
  3. Negara miskin, pendapatan per kapitanya < US$ 300.
Adapun dampak rendahnya tingkat pendapatan penduduk terhadap pembangunan adalah:
  1. Rendahnya daya beli masyarakat menyebabkan pembangunan bidang ekonomi kurang berkembang baik.
  2. Tingkat kesejahteraan masyarakat rendah menyebabkan hasil pembangunan hanya banyak dinikmati kelompok masyarakat kelas sosial menengah ke atas.
Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat (kesejahteraan masyarakat), sehingga dapat mendukung lancarnya pelaksanaan pembangunan pemerintah melakukan upaya dalam bentuk:
  1. Menekan laju pertumbuhan penduduk.
  2. Merangsang kemauan berwiraswasta.
  3. Menggiatkan usaha kerajinan rumah tangga/industrialisasi.
  4. Memperluas kesempatan kerja.
  5. Meningkatkan GNP dengan cara meningkatkan barang dan jasa.

Minimnya Lapangan Pekerjaan dan Pengangguran
Orang tidak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang tidak pernah selesai. Ada tiga hambatan yang menjadi alasan kenapa orang tidak bekerja, yaitu hambatan kultural, kurikulum sekolah, dan pasar kerja. Hambatan kultural yang dimaksud adalah menyangkut budaya dan etos kerja. Sementara yang menjadi masalah dari kurikulum sekolah adalah belum adanya standar baku kurikulum pengajaran di sekolah yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja.
Ekonomi abad ke-21, yang ditandai dengan globalisasi ekonomi, merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha.
Masalah daya saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan isu kunci dan tantangan yang tidak ringan. Tanpa dibekali kemampuan dan keunggulan saing yang tinggi niscaya produk suatu negara, termasuk produk Indonesia,tidak akan mampu menembus pasar internasional. Bahkan masuknya produk impor dapat mengancam posisi pasar domestik. Dengan kata lain, dalam pasar yang bersaing, keunggulan kompetitif merupakan faktor yang berpengaruh dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, upaya meningkatkan daya saing dan membangun keunggulan kompetitif bagi produk Indonesia tidak dapat ditunda-tunda lagi dan sudah selayaknya menjadi perhatian berbagai kalangan, bukan saja bagi para pelaku bisnis itu sendiri tetapi juga bagi aparat birokrasi, berbagai organisasi dan anggota masyarakat yang merupakan lingkungan kerja dari bisnis corporate (kerjasama).
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi tuntutan globalisasi seyogyanya kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sistem pendidikan perlu dirubah.Hubungan antara pendidikan dengan dunia kerja mutlak diperlukan.Siswa butuh praktek lapangan bukan hanya duduk diam dan mendengarkan serta diberi test tulis yang amat membosankan tapi berilah soal dunia nyata agar kreativitas dan pikiran bawah sadarnya dapat optimal serta terlatih. Namun sayang sistem pendidikan diIndonesia hanya menitik beratkan pada test tulis terbukti pada peningkatan standart kelulusan pada UAN atau UNAS tiap tahunnya. Padahal jika dilihat lebih lanjut kebijakan tersebut merupakan kebijakan terbodoh yang pernah ada. Karena hal tersebut hanya membuat siswa terpaksa belajar hanya untuk meraih nilai standar bukan untuk melatih skill yang dirinya butuhkan untuk menghadapi tantangan persaingan global padahal yang dibutuhkan sekarang bukan nilai akademik yang tertulis tapi skill yang benar-benar dikuasai dan dipraktekkan didunia nyata maka wajar saja jika Indonesia masih minim sumberdaya manusia yang benar-benar memiliki keahlian dibidangnya sebaliknya angka pengangguran terus meningkat.
Di Indonesia terjadi ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja  dimana tentunya lapangan pekerjaan yang jauh lebih sedikit dibandingkan para pencari kerjanya. Selain itu kondisi ini juga diperparah dengan tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah dimana stuktur pendidikan angkatan kerja di Indonesia masih didominasi pendidikan dasar hampir lebih dari 50%. Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi hal inilah yang membuat angka pengangguran sarjana makin tinggi. Karena begitu banyaknya lulusan perguruan tinggi tiap tahunnya tidak diimbangi dengan lapangan kerja yang memadai.
Pengaturan Sumber Daya Manusia adalah sangat sulit dan kompleks. Manusia mempunyai pikiran, perasaan, status, keinginan, latar belakang sosial budaya dan sebagainya yang bervariasi dan sering terbawa serta ke dalam unit kerja/ organiasi.
Jumlah penduduk yang besar adalah merupakan salah satu modal dasar pembagunan nasional, tetapi penduduk yang tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk bekerja akan menimbulkan masalah di dalam pembangunan nasional. Hampir setiap Negara mengalami masalah di dalam menangani masalah pengangguran. Penyebab timbulnya pengangguran adalah :
·         Tidak dimilikinya pendidikan yang memadai
·         Tidak dimiliki bekal keterampilan untuk dapat melakukan aktifitas pekerjaan
Masalah-masalah yang akan timbul dari pengangguran :
·         Adanya kesenjangan sosial
·         Adanya kerawanan sosial
Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.
Pendidikan memang merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia. Dengan pendidikan dapat ditingkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang selanjutnya akan berdampak pada peningkatan produktivitas.
Pendidikan dapat pula dilihat sebagai investasi sumberdaya manusia dan hasilnya akan diperoleh beberapa tahun kemudian (Tjiptoherijanto P, 1996). Namun, peningkatan mutu pendidikan yang tidak diimbangi dengan tersedianya lapangan pekerjaan akan menimbulkan permasalahan baru. Walaupun saat ini ada kecenderungan bahwa sarjana lulusan perguruan tinggi lebih banyak yang menganggur daripada bekerja. Hal, ini terutama disebabkan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia, padahal penduduk yang lulus perguruan tinggi setiap tahunnya selalu bertambah. Sebagai akibatnya banyak diantara para sarjana yang bekerja pada bidang yang bukan keahliannya. Hal ini terpaksa dilakukannya dengan pertimbangan daripada menganggur.
Oleh karena itu, setiap dalam mengenyam pendidikan seharusnya peserta didik diberikan ketrampilan agar memiliki kemampuan untuk berwirausaha. Sehingga, tidak bergantung pada instansi yang sudah didirikan orang lain maupun pemerintah, akan tetapi dapat  mendirikan usaha sendiri sehingga juga dapat menarik tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.
Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang memadai. Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan ekonomi nasional yang berkepanjangan hingga kini merupakan bukti kegagalan pembangunan akibat dari rendahnya kualitas SDM dalam menghadapi persaingan ekonomi global
Sekarang bukan saatnya lagi Indonesia membangun perekonomian dengan kekuatan asing. Tapi sudah seharusnya bangsa Indonesia secara benar dan tepat memanfaatkan potensi sumberdaya daya yang dimiliki dengan kemampuan SDM yang tinggi sebagai kekuatan dalam membangun perekonomian nasional.

Industri-industri penting di Indonesia
            Negara Indonesia memiliki pasar dalam negeri yang besar dan tumbuh dengan cepat Industri sehingga terdapat banyak invekstor asing yang masuk ke Indonesia. Untuk menanam saham mereka di Indonesia. Selain itu terdapat juga industri-industi penting di Indonesia antara lain sebagai berikut :
a.      Industr pariwisata
            Pariwisata sangat penting untuk kesejahteraan banyak negara, karena pendapatan yang dihasilkan oleh konsumsi barang dan jasa oleh wisatawan, pajak-pajak yang dikenakan pada bisnis dalam industri pariwisata dan kesempatan untuk pekerjaan dan kemajuan ekonomi dengan bekerja di industri.
b.      Industr makanan dan minuman
Perilaku konsumsi dan populasi penduduk besar, selalu menjadi incaran bagi para pelaku usaha. Dengan jumlah penduduk yang besar di antara negara-negara  Asean, Indonesia juga telah lama menjadi sasaran empuk berbagai industri. Tak terkecuali industri makanan dan minuman olahan.  Apalagi tingkat permintaannya, nyaris tak pernah surut. Bahkan  di tengah krisis ekonomi sekalipun, permintaan produk makanan dan minuman tetap tak pernah sepi. Selama lima tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi makanan olahan mencapai 41 %.
c.       Industri Transportasi Indonesia
Mobil pertama di Indonesia adalah Benz Phaeton dari Jerman, yang dipesan oleh Sultan Solo pada tahun 1894 dan dipasok oleh John C. Potter yang merupakan pedagang mobil pertama di Indonesia (Herbawati, 2003). Sejak itu berdatangan satu per satu mobil dari Eropa dan Amerika ke Indonesia. Baru pada tahun 1938 bisnis mobil di tanah air dikendalikan putra daerah, yaitu oleh RP Soenaryo Gondokoesoemo yang menjadi agen General Motors di Yogyakarta. Kemudian disusul oleh Hasjim Ning (1950-an), William Suryadjaya, Syarnoebi Said dan Soebronto Laras di era 1960-an, 1970-an, dan 1980-an. Bisnis mobil saat itu didominasi AS melalui General Motor dengan produk andalannya Chevrolet. Tahun 1950-60an pasar mobil di Indonesia mulai dimasuki produk Jepang.
Saat ini, industri otomotif di Indonesia terutama dalam bentuk perakitan. Menurut Gero 2001)

 Persebaran Industri di Indonesia
            Berdasarkan dengan persebaran industri di Negara Indonesia dapat di lihat pada tanel berikut ini:
No
Nama Industri
Alamat
Telp/Fax
1.
PT Indo Asidatama
Jl Raya Solo Sragen Km 11,4 Kemiri Kec Kebakkramat
Kab Karanganyar Solo 57762 Po Box 302 Solo 57100, http//www.acidatama.co.id
0271 648400/
0271 648700
2.
PT Palur Raya
Jl Raya Solo Sragen Km 6
0271 821371/-
3.
PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) Divisi Tanaman Semusim Pg Rendeng
Jl Jend Sudirman No 285 Kudus 59301
0291 438641/
0291 437364
4.
Pusat Pengembangan Tenaga Perminyakan dan Gas Bumi
Jl Sorogo1 Cepu 58315
Kab Blora-Jateng, PPT Migas@Indo.Net.Id
0296 421888 ext 134/0296 421891
5.
PT Suraharta Oxygen
Jl Raya Solo Sragen Km 9 Karanganyar Surakarta
-
6.
PT Intiboga Sejahtera
Jl Tanjung Tembaga No 2-6 Tanjung Perak Surabaya 60834
031 3292040/031 3292033
7.
PT Sama Satria Pasifik
Off : Gedung Graha Pangeran
Lt 8 Jl Jend A Yani 286
Surabaya 60834
Fac : Jl Raya Kemangsen Km
32 Kec Balongbando
Sidoarjo
Off : 031 8292727/031
8292709
Fac : 031 8971226-68,
8975514/
031 8971269
8.
PT Aruki (Arjuna Utama Kimia)
Jl Rungkut Industri I No 18-22 Surabaya 60292 Tromol Pos 14/Rungkut
031 8411413, 8431646/031 8432672
9.
PT Madu Unggas Perkasa
Bleaching Earth And Bentonite Manufacture
Jl Kesamben Wetan Driyorejo-Gresik
Po Box 1347 Surabaya 60013 Jatim, Mip@Mitra.Net.Id
031 7507390, 7507526/031 7507281
10.
PT Petronika
Jl Prof Dr Moh Yamin Gresik Po Box 129 Gresik Jatim, Petronika@Indo.Net.Id.Ir
031 3951965/031 3951955
11.
Perusahaan Gas Negara (Persero) Cab Surabaya
Jl Gembong No 28 Surabaya 60141
031 3722222/031 3710554
12.
PT Miwon Indonesia Tbk
Off : 21st Floor Menara Global Jl Jend Gatot Subroto Kav 27 Jkt 12950
Fac : Kec Droyorejo Kab Gresik 6117 Jatim Po Box 1369/Jat Jkt 13013, Mrktg@Miwonindonesia.Co.Id
Off : 021 5270150/021 5270152
Fac : 031 750788, 7590040/031 7507595, 759003
13.
PT Petro Central
Off : Ekonom Centre 6th Floor Jl Embong Malang 61-65 Surabaya 60261 Ind
Fac : Jl Raya Rooma Gresik 61118 Ind Po Box 53 Gresik
Off : 031 5325211-5325212/031 5325232
Fac : 031 3981736, 3982536, 3983426/031 3982776
14.
PT Sindopex Perotama
Ds Kramat Temanggung Tarik Sidoarjo Jatim Ind Po Box 168 Mojokerto 61301
0321 363331 (4LINE)/0321 363317
15.
PT Industri Soda Ind
Jl Waru 31 Sby
031 8532817
16.
PT Multi Bintang Ind
Jl Sampang Agung Mojokerto 61300 Jatim
0321 592505 EXT 101
17.
PT Samator Inti Peroksida
Off : 6th Floor Graha Pangeran Building Jl Jend A Yani 286 Sby 60234 Ind
Fac : Kawasan Industri Gresik Jl Kig Raya Utara Blok K Kav 12-20 Gresik Ind
Off : 031 8292727/031 8292709
Fac : 031 3950911-12/031 3950910
18.
PT Nestle Ind
Jl Waru 25 Waru Sidoarjo
031 8531947, 8531874
19.
PT Indoxide
Jl Barbek Industri 25 Sby
031 8431947
20.
PT Aktif Indonesia Indah
Jl Rungkut III 64 Sby
031 8434499, 8434566
21.
PT Petrokimia Gresik
Off : Jl Jend A Yani Gresik 61119 Po Box 102 Gresik 61101, Pkg@Indo.Net.Id
031 3981811-3981814,3982200 ext 2957/031 3981722, 3982272
22.
PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
Jl Raya Sby-Mojokerto Jatim
0321 361552, 388195/0321 361615
23.
PT Iglas (Persero)
Off : Jl Ngagel 153 Sby 60246
Fac : Jl Kapten Darmo Sugondho Segoro Madu Gresik 61153, Iglas@Rad.Net.Id
Off : 031 5017586, 5018212, 5019516, 5017561/031 5015786
Fac : 031 5015786/031 3974484, 3973720, 3971648/031 3974483
24.
PT Filma Utama Soap The Tempo Group
Jl Gresik No 1-3-5 Sby Po Box 1130 Sby
031 3525852, 3525853, 3525854/031 3530269
25.
PT Sier
Jl Rungkut Industri Raya No 10 Sby
031 8439581
26.
PT Unilever
Jl Rungkut Industri IV/5-11 Sby
031 8438052, 8403127, 8432117, 8438297
27.
PT Semen Gresik
Jl Unit I dan II Desa Sidomoro Gresik
031 3981731 ext 45
28.
PT Ajinomoto
Desa Mlirip Jetis Mojokerto Po Box 110 Mojokerto
0321 21710 (7line) 361173, 361710/0321 21708
29.
PT Wings Surya

031 7509716
30.
PT Aneka Gas Industri Sby

031 7882505
31.
PT Sorini

0343 631776-78
32.
Arco
Gedung Landmark Center, Tower B Lt 19 Jl Jend Sudirman Kav 70 A Jakarta 12910
021 5202121/021 5202221
33.
Betz
Jl Kemang Selatan Raya 151 Jakarta 12560

34.
Dow Chemical Pacific Ltd.
Wisma GKBI Suite 2001 Jl Jend Sudirman No 28 Jakarta 10210
021 5742020/021 5742121
35.
Dumex Indonesia
Jl Raya Bogor Km 28 Po Box 1044/JAT-Jakarta 13010

36.
Indah Kiat Pulp and Paper
Wisma Bank International Jl MH Thamrin Jakarta

37.
Keramika Indonesia Assosiasi
Jl Mangga Besar Raya No 42 F/Po Box 466 jkt

38.
Maxus Southeast Sumatera, Inc
Jakarta Stock Exchange Building 6th Floor Jl Jend Sudirman Kav.52 Po Box 2759 Jakarta 12190

39.
Pabrik Gula Madukismo Yogyakarta
Padokan-Tirtonirmolo Kasihan Bantul Tromol Pos 49 Yogyakarta 55002

40.
Pabrik Gula Gunung Madu
Km 90 Gunung Batin Lampung Tengah
0725 46700/0725 46800
41.
Peroksida Indonesia Pratama
JL Jend Ahmad Yani Po Box 53 Cikampek 41373

42.
Pertamina
Gedung X Griya Legita Jl Sinabung II Terusan Simprug Jakarta
021 3915111-3816111/021 343882-363585
43.
PT Chandra Asri
Jl Raya Anyer Km 123 Ciwandan Cilegon 42447
0254 601501,021 5212867/0254 601505
44.
PT Dystar Cilegon
Jl Raya Anyer Km 5 Po Box 144 Cilegon 42435
0254 396960/0254 396961
45.
PT Intiboga Sejahtera
Jl Tanjung Tembaga No 2-6 Surabaya 60167

46.
PT Kertas Leces (Persero)
Leces Probolinggo 67202
0335 21993/0335 21628
47.
PT P.G. Rajawali II
PSA Palimanan Jl Raya Palimanan N0 168 Cirebon 45161
0231 341020/0231 341020
48.
PT Pasific Indomas Plastic Indonesia (Dow)
Wisma GKBI Suite 2001 Jl Jend Sudirman No 28 Jakarta 10210
021 5742020/021 5742121
49.
PT Polytama Propindo
Polypropylene Plant Jl Raya Juntinyuat Km 13 Ds Limbangan Juntinyuat Indramayu
0234 28002/0234 28618
50.
PT Pulosynthetics
Jl Raya Anyer Km 5 Po Box 144 Cilegon 42435
0254 396954-55/0254 396956
51.
PT Semen Gresik (Persero) Tbk
Gedung Utama Semen Gresik Jl Veteran Gresik 61122
031 981732/031 983209
52.
PT Semen Nusantara
Gedung BRI II Lt 26 Jl Jend Sudirman Kav 44-46 Jakarta
-/021 5719479
53.
PT Timah Tbk
Jl Jend Sudirman 51 Pangkal Pinang 33121 Bangka
0717 31335/0717 32323
54.
PT Total Indonesia
Training Department-AT Total Indonesia Jakarta
021 2520528/021 2520528
55.
PT Agricinal
Jl Kayumas 16 Bengkulu

56.
PT Amoco Mitsui PTA Indonesia
Kompleks PENI Jl Raya Merak Km 116 Desa Rawa Arum Cilegon Jawa Barat

57.
PT Aneka Gas Industri
Jl Minangkabau 60 Po Box 2040 Jakarta 12970
021 8296108, 8308351/021 8281115
58.
PT Arun NGL. Co
Blang Lancang Lhokseumawe Po Box 22 Aceh Utara 24353
0645 56677/0645 43922, 41312
59.
PT Asahimas Subentra Chemical
Jl Raya Anyer Km 122 Desa Gunung Sugih Cilegon 42447
0254 601252/0254 602014
60.
PT Asean Aceh Fertilizer
Krueng Geukeuh Po Box 09 Lhokseumawe Aceh Utara

61.
PT Australian Indonesian Milk Industries
Jl Raya Bogor Km 26,6 Gandaria Po Box 2431 Jakarta 13710
-/021 8710404
62.
PT Badak NGL. Co
Bontang 75324 Kalimantan Timur
0541 42100, 0542 21815, 24622, 0548 21133, 551165
63.
PT Bakri Kasei Corporation
Gedung Setiabudi Atrium Suite 710 Setiabudi Office Park Jl HR Rasuna Said Kuningan Jakarta 12920
021 5207699, 5210774-5/021 5153961, 5210776
64.
PT BOC gases Indonesia
Jl Raya Bekasi Km 21 Pulo Gadung Jakarta 14250
6221 4601793/6221 4602789
65.
PT Caltex Pasific Indonesia
Jl Budi Kemuliaan I No 1 Po Box 1158 Jakarta 10011
-/021 3512065
66.
PT Cussons Indonesia
TIFA Building 10th Floor Suite 10-01 Jl Kuningan Barat N0 26 Jakarta Selatan 12710

67.
PT Dahana (Persero)
Jl Letkol Basir Surya Kotak Pos 117 Tasikmalaya
331853/334819, 332425
68.
PT Dana Paints Indonesia
Jl Pemuda Pulo Gadung Po Box 1093/JAT Jakarta 13010

69.
PT DuPont Agricultural Products Indonesia
Menara Mulia 5th Floor Suite 501 Jl Jend Gatot Subroto Kav 9-11 Jakarta 12930
6221 5272617-22, 52222568-69/6221 5222570
70.
PT Hutama Prima
Metro Duta Niaga Blok 2B/A3 Pondok Indah Jakarta 12310

71.
PT ICI Paints Indonesia
Jl Raya Bogor Km 35,8 Cimanggis
021 8752031, 8751732/021 8752517
72.
PT ICI Paints Indonesia
TIFA Building 4th Floor Jl Kuningan Barat 26 Po Box 4642 JKTM 12046 Jakarta 12710
021 5250420, 5205434-5/021 5251092
73.
PT Indo Acidatama
Jl HOS Cokroaminoto 28 Po Box 151 Solo 57125
0271 48743, 43504/0271 48651
74.
PT Indocement Tunggal Prakarsa
Wisma Indocement Kav 70-71 Jl Jend Sudirman Jakarta
021 2512121, 2522121, 5703817/021 5701693, 2510066
75.
PT Indomiwon Citra Inti
Desa Gunung Pasir Jaya Kec Jubung Lampung Tengah

76.
PT Indonesia Asahan Alumunium
Summitmas 1 15th Floor Jl Jend Sudirman Kav 61-62 Jakarta 12069
021 2520185/021 2524278
77.
PT Indonesia Asahan Alumunium
Pabrik Peleburan Alumunium Po Box 1 Kuala Tanjung 21257 Asahan Sumatera Utara
0622 31311/0622 31001
78.
PT Indorama Synthetics
Desa Ubrug Jatiluhur Purwakarta
0264 202311/-
79.
PT Intermational Nickel Indonesia
Soroako 91984 Sulawesi Selatan
62021 3846078, 3456855, 621411 31845, 320700/62021 3842418
80.
PT Inti Indorayon Utama
Desa Sosorladang Kec Porsea Tapanuli Utara

81.
PT Kertas Bekasi Teguh
Jl Perjuangan Kampung Teluk Buyung Bekasi

82.
PT Krakatau Steel
Gedung ADB Jl Industri No 5 Cilegon
0254 92159, 92003/0254 91982
83.
PT Martina Berto
Jl Pulo Kambing II No 1 Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta Timur
021 4603717, 4603718, 4603719/021 4606146
84.
PT Medco Methanol Bunyu
Plaza BAPINDO Menara II Lt 10 Jl Jend Sudirman Kav 54-55 Jakarta 12190
021 5266134/021 5266137
85.
PT Mobil Oil Indonesia
Ratu Plaza Building Jl Jend Sudirman Po Box 1400 Jakarta 10014

86.
PT Mulia Keramik Indah Raya
Jl Raya Tegal Gede Desa Lemah Abang Sikarang 17550
021 8935708/021 8935709
87.
PT Multi Bintang Indonesia
Jl Daan Mogot Km 19 Po Box 3264 Jakarta 10002

88.
PT Multi Bintang Indonesia
Jl Ratna No 14 Po Box 5058 Surabaya 60000

89.
PT Mustika Ratu
Mustika Centre Lt 12 Jl Gatot Subroto Kav 74-75 Jakarta Selatan

90.
PT Nestle Indonesia
Jl Raya Waru 25 Sidoarjo
031 8531947, 8531874/031 8531527
91.
PT Novartis Biochemie
Jl Pahlawan 25 Desa Karang Asem Timur Citeureup 16810 Bogor
6221 8753184/6221 8753895
92.
PT Nutrifood Indonesia
Jl Raya Ciawi 280 A Bogor 16720
0251 240257/0251 242132
93.
PT Petrokimia Nusantara Interindo
Jl Raya Merak Km 116 Desa Rawa Arum Cilegon Jawa Barat
0254 71333/0254 71320, 71290
94.
PT Petrowidada
Jl Prof Dr Moh Yamin SH Po Box 54 Gsk Gresik 61118
031 3951945/031 3951943, 3951950
95.
PT Pulosynthetics Cilegon
Hoechst Marion Roussel Building Jl Jend A Yani Pulo Mas Jakarta 13012
021 4892208, 4895608/021 4892464
96.
PT Pupuk Iskandar Muda
Jl Medan Banda Aceh Po Box 021 Lhokseumawe Aceh Utara 24354
0645 56222/0645 56095
97.
PT Pupuk Kujang
Jl Jend A Yani 39 Po Box 4 Cikampek 41373 Ir H Ashari Untung MM
0264 316141/0264 314235, 314335
98.
PT Pupuk Sriwidjaja
Jl Mayor Zen Palembang 30118
0711 712111-71222/0711 712100
99.
PT Pupuk Sari Husada
Jl Kusumanegara No 173 Po Box 37 YK 55002
0274 512990, 514396, 510957/0274 563328
100.
PT Sayang Heulang
Jl Jembatan Tiga Blok F&G Jakarta 14440

101.
PT Semen Padang
Indarung Padang 25237
0751 32250/0751 34590
102.
PT Semen Tonasa
Granadha Building Jl Jend Sudirman Tonasa Pangkep Sulawesi Selatan
0411 320671-3, 323724/0411 321976
103.
PT Sinar Sostro Tambun
Jl Raya Diponegoro Km 39 Desa Jatimulia Tambun Bekasi
021 8802408, 8807323, 8807324/021 8801741
104.
PT Socfin-Indonesia (Socfindo)
Jl KL Yos Sudarso No 106 Po Box 1254 Mdn 20001 Medan 20115
061 616066/061 614390
105.
PT Sumi Asih Oleochemical Industry
Kode Pos 17115 Bekasi Jl Raya Jakarta-Bekasi Km 38
021 5732680, 5732671, 72, 75/021 5732651
106.
PT Tri Polyta Indonesia
Gedung Bimantara 11th Floor Jl Kebon Sirih 17-19 Jakarta 10340
021 3929828/021 3929818
107.
PT Unggul Indah Corporation
Wisma UIC 2nd Floor Jl Gatot Subroto Kav 6-7 Jakarta 12930
021 5256510/021 5200829
108.
PT Unilever Indonesia
Jl Jend Gatot Subroto Kav 15 Po Box 1162 Jakarta 10011 Jakarta 12930
-/021 5262044
109.
PT Unilever Indonesia
Jl Rungkut Industri IV No 5-11 Surabaya 60291
031 8432117, 8438297/031 8439159
110.
PT Union Carbide Indonesia
Jl Raya Jakarta-Bogor Km 29,3 Cimanggis Bogor

111.
Unocal Indonesia Company
Pasir Ridge Po Box 276 Balikpapan 76102
0542 34000/0542 32993
112.
Vico Indonesia
Kuningan Plaza South Tower Jl HR Rasuna Said Kav C 11-14 Po Box 2828 Jakarta 12940
021 5236859/021 5236871
113.
Wall’s Ice Cream
Cikarang Industrial Estate Jl Jababeka IX Kav D No 1-19 Bekasi
021 8934453/021 8934075
114.
Tripatra Engineering
Jl RA Kartini No 34 Cilandak Barat Jakarta 12430
021 7500701/021 7500700
115.
PT Rekayasa Industri
Kalibata Timur I No 36 Po Box 3727 Jakarta 12740
021 7988700, 7988707/021 7988701, 7988702
116.
PT Inti Karya Persada Teknik
Jl Prof DR Soepomo SH No 42 Jakarta 12870
021 8292177/021 8297198
117.
PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills
Jl Ir Sutami No 88 Karawang 41313

118.
PT Ceres
Jl Raya Dayeuhkolot No 84 Bandung
022 5207421
119.
PT Pupuk Kalimantan Timur
Kompleks PT Pupuk Kaltim Bontang 75313

120.
PT Ultra Jaya
Jl Cimareme No 131 Po Box 1230 Padalarang 40552
022 6654610-11/022 665412
121.
PT Freeport Indonesia
Plaza 89 Lt 5 Jl HR Rasuna Said Kav X-7 No 6 Jakarta 12940
021 5225666, 2520727/021 5201518
122.
PLTGU Gresik
Jl Arjuna 6 Gresik
031 3984540 ext 6019
123.
ORICA Australia Pty Ltd.
Sentral Senayan 1 4th Floor Jl Asia Afrika No 8 Jakarta 10270
021 5723070/021 5723080
124.
Kondur Petroleum SA
10th Floor Landmark Center Tower A Jl Jend Sudirman No 1 Jakarta 12910
021 5223434, 5710707/6221 5711004
125.
PT Ketas Padalarang
Jl Cikaliwung No 181 Padalarang
022 6809315/022 6809284
126.
PT Nof Mas Chemical Industries
Kawasan Industri Bekasi Fajar Blok D-1 Mekar Wangi MM2100 Industrial Town Phase III Cibitung Bekasi 17520
021 8980636/021 8980638
127.
PT Castrol Indonesia
Jl Raya Merak Km 117 Desa Gerem Merak Cilegon
0254 571614/0254 570740
128.
PT Daekyung Indah Heavy Industri
-
0254 571614/0254 570740
129.
PT Dong Jin Indonesia
Jl Raya Anyer Km 123 Ciwandan Cilegon
0254 601245-6/0254 601247
130.
PT Dover Chemical
Jl Raya Anyer Km 123 Ciwandan Cilegon
0254 571064/0254 571224
131.
PT Dow Chemical Indonesia
Jl Raya Merak Km 117,5 Desa Gerem Cilegon
0254 571369/0254 572464
132.
PT Dystar
Jl Australia I Kav F-1 Kawasan Industri KIEC Cilegon
0254 396960/0254 396961
133.
PT GT Petrochem Industry Tbk
Desa Mangunreja Bojonegara Serang
0254 500055-57/0254 500059
134.
PT Inti Ever Spring Indonesia
Desa Mangunreja Bojonegara Serang
0254 500049-64/0254 500063
135.
PT Karbon Indonesia
Jl Salira Indah Desa Samuranja Serang
0254 500093-6/0254 350310
136.
PT Lautan Otsuka Chemical
Jl Raya Anyer Km 123 Gunung Sugih Ciwandan-Cilegon
0254 601150/0254 601152
137.
PT Bayer Urethanes Indonesia
Jl Raya Anyer Km 121 Tanjung Leneng Ciwandan-Cilegon
0254 601122/0254 601131
138.
PT Nippon Shokubai Indonesia
Kawasan Industri Panca Putri Jl Raya Anyer Km 110 Ciwandan-Cilegon
0254 600660/0254 600657
























BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
            Sumber daya manusia (SDM) merupakan seluruh kemampuan atau potensi penduduk yang berada di dalam suatu wilayah tertentu beserta karakteristik atau ciri demografis, sosial maupun ekonominya yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembangunan. Jadi membahas sumber daya manusia berarti membahas penduduk dengan segala potensi atau kemampuannya yang terdiri atas aspek kualitas dan kuantitas. Sumber daya manusia sebagai penduduk memiliki peran, antara lain sebagai produsen, konsumen dan distributor.
Perkembangan penduduk yang cepat tidak  selalu merupakan penghambat bagi jalannya pembangunan ekonomi jika penduduk ini mempunyai kapasitas yang tinggi untuk menghasilkan dan menyerap hasil produksi yang dihasilkan. Ini berarti tingkat pertambahan penduduk yang tinggi disertai dengan tingkat penghasilan yang tinggi pula. Jadi pertambahan penduduk dengan tingkat penghasilan yang redah tidak ada gunanya bagi pembagunan ekonomi.
Dalam pencapaian pembangunan ekonomi nasional banyak kendala yang dihadapi. Termasuk juga SDM yang ada juga mengalami kendala – kendala dalam pengembangan pembangunan ekonomi nasional, diantaranya: tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, tingkat penghasilan/pendapatan, minimnya lapangan pekerjaan dan pengangguran.

4.2 Saran
            Hendaknya ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan pembangunan ekonomi, selain itu kebijakan yang diambil seharusnya disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia, kondisi masyarakat dan permasalahan di Indonesia.
            Selain peningkatan kualitas, tingginya pertumbuhan perduduk di Indonesia dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pembangunan ekonomi dengan cara meningkatkan mutu pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
             





DAFTAR RUJUKAN

Anonim.2010.Hakekat dan Ruang Lingkup Geografi Ekonomi.pdf (diakses pada tanggal 14 Januari 2014)
Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan. Yogakarta: Sekolah Tinggi Ekonomi YKPN.
Fauziah, Puji Yanti.2005.Pendidikan Luar Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Dalam Era Globalisasi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Gomes, Faustino Cardos. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia.Yogyakarta: Penerbit Andi.
http://papaannisa.blogspot.com/p/peran-penduduk-dalam-pembangunan.html (diakses pada tanggal 13 Februari 2014)
http://rahmatkusnadi6.blogspot.com/2010/10/permasalahan-kuantitas-dan-kualitas.html (diakses pada tanggal 24 Februari 2014)
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/peranan-sumber-daya-manusia-di-indonesia/ (diakses pada tanggal 15 Februari 2014)
Irawan, M. Suparmoko. 1995. Ekonomi Pembangunan, Edisi Lima, Cetakan ke Empat. Yogyakarta: Penerbit BPFE.
Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah dan Kebijakan (Cetakan pertama). Yogyakarta: Unit penerbitan dan percetakan akademi manajemen perusahaan YKPN.
Mathis dan Jackson. 2002.  Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Pertama, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Salemba Empat.
Sudarmi, S., Waluyo. 2008. Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu. Semarang : PT Sindur Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar